Written
by Fadhilah Hana Lestari
Communication industry is
potentially growing yet challenging market. Dan Alhamdulillah saya punya kesempatan
untuk cicip-mencicip rasanya industri telekomunikasi.
Bersyukur
sekali saya punya kesempatan magang di salah satu internet fixed line provider besar di Malaysia. Service mereka tergolong premium karena teknologi broadband yang
digunakan 100% fibre optic yang
artinya kualitas dan speed sangat
terdepan. Tapi tentunya, this all come
with prices
Nah,
perusahaan magang saya saat ini sedang dalam shock terapi karena tanggal 1 Januari 2013 kemarin LTE baru saja
diluncurin. Saat ini jaringan LTE di Malaysia masih dalam coverage yang minim (hanya dapat diakses di beberapa area saja) dan
device yang bisa digunakan juga sangat
minim (dan shocking news-nya iPhone 5
tidak support dengan LTE Malaysia, lesson learned: jangan beli iPhone 5 di
sini !!). Tapi walaupun begitu, siapa yang tau dalam setahun –atau bahkan 6
bulan- coverage dan device LTE mulai berkembang.
Tidak
seperti Jepang dan Korea,
LTE memang mainan baru di Malaysia.
Kemunculan LTE memperkuat nilai mobile/wireless solution dalam teknologi
broadband. Katakanlah ada pemuda tanggung yang sedang mencari jati diri pergi
ke kota,
menyewa kamar kosan. Dia melihat ada dua tawaran menarik:
- Internet fixed line. Kontrak minimal setahun. Speed 50 Mbps (stable). Unlimited quota. Harga sedikit mahal.
- 4G LTE. Bisa USB dongle, bisa beli bundled smartphone. Speed (up to) 40 Mbps. Limited quota. Bisa dibawa kemana2. Pindah kosan ga masalah.
Kalau
saya jadi pemuda tanggung itu saya pasti akan memilih opsi 2.
Tapi
contoh kasus ini ga bisa dijadikan patokan bahwa teknologi LTE telah membunuh fixed line. Ada
industri-industri yang memerlukan kehandalan jaringan yang cuma bisa dipenuhi
oleh fixed line service, contoh: IT, banking,
stock exchange, dll.
Industri-industri
ini bukan hanya sekedar memerlukan broadband
untuk daily activity, tapi mereka memerlukan broadband agar bisnis mereka tetap berjalan dan berkembang. Apalagi
trend jaman sekarang, video conferencing dan cloud computing digunakan dimana-mana. Barang
tentu mereka lebih memilih fiber optic daripada teknologi wireless yang kekuatan sinyalnya tidak
stabil dan memiliki limit quota.
Jadi
kita tidak (atau belum) bisa menentukan siapa pemenang antara LTE dengan fixed-line.
Justru,
diprediksikan di masa yang akan datang, bahwa integrated service itulah
yang akan diimplemetasikan. 4G, Fibre,
SIP, wireless internet leased line, dll, akan menyediakan service
untuk customer baik individu atau
perusahaan.
Malah
sebenernya, yang perlu diwaspadai para voice dan internet service provider ini adalah
ke-merajalela-annya para OTT (Over The
Top) service. OTT service adalah
layanan yang menyediakan aplikasi atau content,
bisa dalam bentuk voice, data, video,
dll menggunakan media internet.
Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya maintaining internet atau melakukan traffic management, tapi mereka menuai profit dari internet. Beberapa contoh OTT service: Facebook, Google, Skype,
Whatsapp, LINE, Viber, Tango, dll.
Hal
ini berdampak pada jumlah revenue
yang didapat oleh operator telekomunikasi dari SMS dan voice call semakin
menurun. Faktor bertambahnya jumlah pengguna smartphone di seluruh dunia juga turut membantu berkembangnya OTT service ini. Semakin ‘pintar’ ponsel
mereka, semakin mudah juga pengguna mengirimkan SMS dan melakukan voice call melalui media internet.
Cukup langganan salah satu paket broadband,
smartphone kita bisa utilize-to-the-max.
Jadi
sekarang bukan lagi masalah fixed line vs mobile. Tapi telco industry vs OTT player. OTT player
sendiri sudah dianggap sebagai big market
disrupter. Tidak sedikit perusahaan telco yang berkolaborasi dengan OTT service sebagai salah satu strategi
bisnis mereka. Salah satu contoh simple: Beli paket perdana operator XYZ bisa
gratis main Facebook selama 1 bulan. Ada juga
perusahaan telco yang menciptakan sendiri OTT aplikasi (kalau tidak salah di Korea),
tapi saya tidak terlalu tau bagaimana efeknya terhadap bisnis tersebut.
Kembali
lagi kepada kalimat pertama saya, lagi-lagi dunia telekomunikasi menunjukan
dinamikanya. Tahun 2013 ini direncanakan LTE Advance akan diluncurkan di USA,
Jepang dan Korea.
Di lain pihak, sistem Fibre Optic bawah laut (dengan kapabilitas speed dalam Tbit/s) sedang dikembangkan
untuk mampu mentransfer data ke seluruh dunia menggantikan sistem komunikasi satelit
(yang hanya memiliki kapabilitas speed di bawah 1Gbit/s).
Dunia
telekomunikasi menarik, kan?

No comments:
Post a Comment