Wednesday, March 20, 2013

Telecommunication Update 2013





Written by Fadhilah Hana Lestari


Communication industry is potentially growing yet challenging market. Dan Alhamdulillah saya punya kesempatan untuk cicip-mencicip rasanya industri telekomunikasi.

Bersyukur sekali saya punya kesempatan magang di salah satu internet fixed line provider besar di Malaysia. Service mereka tergolong premium karena teknologi broadband yang digunakan 100% fibre optic yang artinya kualitas dan speed sangat terdepan. Tapi tentunya, this all come with prices 

Nah, perusahaan magang saya saat ini sedang dalam shock terapi karena tanggal 1 Januari 2013 kemarin LTE baru saja diluncurin. Saat ini jaringan LTE di Malaysia masih dalam coverage yang minim (hanya dapat diakses di beberapa area saja) dan device yang bisa digunakan juga sangat minim (dan shocking news-nya iPhone 5 tidak support dengan LTE Malaysia, lesson learned: jangan beli iPhone 5 di sini !!). Tapi walaupun begitu, siapa yang tau dalam setahun –atau bahkan 6 bulan- coverage dan device LTE mulai berkembang.

Tidak seperti Jepang dan Korea, LTE memang mainan baru di Malaysia. Kemunculan LTE memperkuat nilai mobile/wireless solution dalam teknologi broadband. Katakanlah ada pemuda tanggung yang sedang mencari jati diri pergi ke kota, menyewa kamar kosan. Dia melihat ada dua tawaran menarik:
  1. Internet fixed line. Kontrak minimal setahun. Speed 50 Mbps (stable). Unlimited quota. Harga sedikit mahal.
  2. 4G LTE. Bisa USB dongle, bisa beli bundled smartphone. Speed (up to) 40 Mbps. Limited quota. Bisa dibawa kemana2. Pindah kosan ga masalah.

Kalau saya jadi pemuda tanggung itu saya pasti akan memilih opsi 2.

Tapi contoh kasus ini ga bisa dijadikan patokan bahwa teknologi LTE telah membunuh fixed line. Ada industri-industri yang memerlukan kehandalan jaringan yang cuma bisa dipenuhi oleh fixed line service, contoh: IT, banking, stock exchange, dll.

Industri-industri ini bukan hanya sekedar memerlukan broadband untuk daily activity, tapi mereka memerlukan broadband agar bisnis mereka tetap berjalan dan berkembang. Apalagi trend jaman sekarang, video conferencing dan cloud computing digunakan dimana-mana. Barang tentu mereka lebih memilih fiber optic daripada teknologi wireless yang kekuatan sinyalnya tidak stabil dan memiliki limit quota.

Jadi kita tidak (atau belum) bisa menentukan siapa pemenang antara LTE dengan fixed-line.

Justru, diprediksikan di masa yang akan datang, bahwa integrated service itulah yang akan diimplemetasikan. 4G, Fibre, SIP, wireless internet leased line, dll, akan menyediakan service untuk customer baik individu atau perusahaan.

Malah sebenernya, yang perlu diwaspadai para voice dan internet service provider ini adalah ke-merajalela-annya para OTT (Over The Top) service. OTT service adalah layanan yang menyediakan aplikasi atau content, bisa dalam bentuk voice, data, video, dll menggunakan media internet. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya maintaining internet atau melakukan traffic management, tapi mereka menuai profit dari internet. Beberapa contoh OTT service: Facebook, Google, Skype, Whatsapp, LINE, Viber, Tango, dll.

Hal ini berdampak pada jumlah revenue yang didapat oleh operator telekomunikasi dari SMS dan voice call semakin menurun. Faktor bertambahnya jumlah pengguna smartphone di seluruh dunia juga turut membantu berkembangnya OTT service ini. Semakin ‘pintar’ ponsel mereka, semakin mudah juga pengguna mengirimkan SMS dan melakukan voice call melalui media internet. Cukup langganan salah satu paket broadband, smartphone kita bisa utilize-to-the-max.

Jadi sekarang bukan lagi masalah fixed line vs mobile. Tapi telco industry vs OTT player. OTT player sendiri sudah dianggap sebagai big market disrupter. Tidak sedikit perusahaan telco yang berkolaborasi dengan OTT service sebagai salah satu strategi bisnis mereka. Salah satu contoh simple: Beli paket perdana operator XYZ bisa gratis main Facebook selama 1 bulan. Ada juga perusahaan telco yang menciptakan sendiri OTT aplikasi (kalau tidak salah di Korea), tapi saya tidak terlalu tau bagaimana efeknya terhadap bisnis tersebut.

Kembali lagi kepada kalimat pertama saya, lagi-lagi dunia telekomunikasi menunjukan dinamikanya. Tahun 2013 ini direncanakan LTE Advance akan diluncurkan di USA, Jepang dan Korea. Di lain pihak, sistem Fibre Optic bawah laut (dengan kapabilitas speed dalam Tbit/s) sedang dikembangkan untuk mampu mentransfer data ke seluruh dunia menggantikan sistem komunikasi satelit (yang hanya memiliki kapabilitas speed di bawah 1Gbit/s).

Dunia telekomunikasi menarik, kan?
                                                            

Friday, March 15, 2013



Hari-hari kerja berjalan seperti biasa, tak ada yang berbeda. Email berdatangan masuk ke inbox saya di kantor. Satu persatu saya cermati isinya, sambil mengernyitkan dahi tanda tak mengerti kalimat-kalimat dalam bahasa jepang itu. Tibalah saya pada email yang kira-kira bunyinya begini: "Giri-san, tolong presentasi smart grid minggu depan ya. Kali ini yang datang 60 orang."

Setengah hati saya terima kerjaan ini. Kenapa? Dulu saya pernah presentasi smart grid di depan 20 orang India. Ketika itu mereka memborbardir saya dengan pertanyaan segala rupa, yang datang dari segala penjuru arah, bagaikan serangan pasukan muslimin saat pembebasan Konstantinopel yang dipimpin oleh sang panglima terbaik, Muhammad Al-Fatih, di tahun 1453. Ini saja baru 20 orang, apalagi 60 orang? Serangan-serangan akan datang 3 kali lipat lebih gencar. Saya trauma.

Tapi apalah arti trauma bagi GPM (baca: group manager) sang pemberi kerjaan. Saya tak bisa menolak. Mulailah saya baca isi emailnya dengan lebih seksama, cari arti kalimat-kalimat dengan Google translate, periksa schedule presentasi dengan cermat, lalu double click file yang terlampir di email. File ini berisi daftar nama orang-orang yang akan datang berkunjung ke pabrik Fuchu (baca: pabrik tempat saya bekerja), untuk saya presentasikan smart grid.

Satu persatu nama negara saya lihat. "Oh ada beberapa orang Indonesia", gumam saya dalam hati. Telunjuk saya geser ke kolom nama orang, ada Akhmaloka, Sudarso, Jann, dari Institut Teknologi Bandung (baca: ITB). Wow, begitu tahu ini, semangat saya untuk presentasi bangkit seketika. Saya bisa salaman dengan rektor ITB untuk ke-2 kalinya. Saya bisa cerita banyak tentang suka duka bekerja di sini. Saya bisa sampaikan ide-ide untuk ibu pertiwi. Saya bisa ceritakan proyek-proyek mobil listrik, solar panel, smart grid. Saya bisa sampaikan hal-hal baik yang bisa dipelajari dari Jepang untuk Indonesia. Apalagi dua orang yang disebut belakangan adalah Dekan dan pengajar SBM ITB, rekan kerja ayah saya.

Pikiran saya melayang kemana-mana, membayangkan diri seakan sudah ada di depan mereka, tapi telunjuk saya geser lagi. Saya melihat Universitas Indonesia, lalu Rhenald Kasali. Tak percaya dengan apa yang terlihat sepasang mata, saya coba cubit pipi kanan sekali kalau-kalau saya bermimpi. Namun, tulisan itu masih terbaca: "Rhenald Kasali". Ternyata bukan sekedar mimpi.

Professor Rhenald Kasali (baca: Prof RK). Seseorang yang selama ini hanya saya temui di buku-bukunya. Wirausaha muda mandiri. Cracking entrepreneurs. Guru besar Universitas Indonesia yang punya acara TV sendiri di TVRI. Seorang socialpreneur lewat rumah perubahan-nya. Seorang cendekiawan yang gemar membagi-bagi ilmunya. Account twitter yang followernya sudah lebih dari 37 ribu followers. Dia yang selama ini jadi penyemangat saya ber-entrepreneur - walaupun saya belum apa-apa, hanya semangat saja - akan datang berkunjung ke pabrik saya, untuk bertemu saya. Orangnya asli, bukan hanya sekedar virtual character yang memberi pesan lewat tulisan-tulisan dan video. Bukan main senangnya hati ini, akan banyak sekali ilmu yang bisa saya dapat kalau bisa diskusi dengan beliau. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar Rahman). Saya bersyukur ke hadirat Sang Pencipta, Sang Pemberi Rezeki, yang tak henti-hentinya memberi. "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya" (An Nahl 18).

Saya memberitahu kabar ini ke Lukman, seorang sahabat. Diapun berapi-api dan mendesak saya untuk adakan pertemuan khusus setelah presentasi berakhir. Tapi entah bagaimana caranya, Lukman secara ajaib berhasil komunikasi dengan Prof RK lewat twitter. Beliau setuju untuk menemui kami di penginapan hotelnya. Memang hidup Lukman selalu disertai keajaiban-keajaiban dan beragam warna, lebih banyak dari jumlah warna pelangi bahkan. Kami pun mengajak seorang lagi, Bang Deby, seseorang yang bagaikan telah menjadi abang kami berdua. Berangkatlah kami ke hotel Prof RK di Shinagawa selepas kerja di hari rabu senja, hari tanpa over time, dan dimulailah petualangan ini.

Bincang-bincang diawali dengan, sudah bisa ditebak tentunya: perkenalan. Kami bertiga memperkenalkan diri, disertai juga pekerjaan dan bidang masing-masing. Saya smart grid. Lukman thermal power plant. Bang Deby nuclear. Saya ceritakan juga kenapa kami bisa sampai tahu Prof RK sedang ada di Tokyo. Beliau rupanya sedang ada kegiatan ABEST21, The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, lembaga akreditasi internasional yang berpusat di Tokyo, Jepang. Salah satu kegiatannya selama di Jepang memang berkunjung ke pabrik Toshiba di Fuchu dan juga diskusi bersama direktur Toshiba di HQ. Dengan mendapatkan akreditasi ABEST21 ini, suatu institusi akan mendapat pengakuan internasional atas best practices dari quality assurance dan beragam aspek penunjang akademiknya. Tak heran ada nama-nama UI, ITB, IPB, Unbraw, dan lainnya di email kantor yang saya lihat.

Prof RK terkagum-kagum dengan budaya kerja Jepang: budaya SOP. Semua seperti robot. Sudah terprogram untuk jadi working machine. Semua tinggal ikut SOP. Tinggal diikuti saja tanpa perlu pikir banyak. Lewat sinilah mereka jadi masyarakat pekerja. Dengan inilah mereka membangun Jepang jadi sebegini hebatnya. Dimulai dari jalur kereta yang sampai pelosok-pelosok desa, sampai gegap gempita lampu di Shibuya yang masih tetap terang benderang menyala, walaupun PLTN seluruh Jepang sudah dimatikan. Mereka selalu berpikir longterm, mendesain SOP sedemikian rumitnya untuk melingkupi aspek-aspek yang mereka anggap riskan. SOP inilah yang memuluskan pekerjaan mereka menjadi cepat, teratur, dan rapi. Contohnya saja bangun rumah. Baru tiga bulan lalu rasanya saya melihat rumah kumuh di samping asrama. Tiba-tiba datang traktor yang menghancurkan bangunan itu dengan semena-mena, sampai rata dengan tanah. Seminggu berikutnya datang truk-truk membawa komponen-komponen bangunan. Sebulan berikutnya sudah jadi bangunan baru, bersih, dan kinclong di sebelah asrama. Luar biasa cepatnya.

Jepang luar biasa, memang, dilihat dari sisi ini. Pun kami lengkapi cerita Prof RK dengan borok-boroknya Jepang. Dimulai dari anak-anak yang kurang perhatian di keluarga, karena orangtua bekerja di kantornya sampai larut malam, bahkan terkadang sampai weekend. Saat anak-anaknya beranjak menjadi pekerja pun seperti ini. Orangtuanya yang sudah tua renta tak diperhatikan. Seolah-olah dibuang di panti jompo. Krisis sosial sedang terjadi di Jepang. Tak heran masyarakat Jepang gemar melakukan bunuh diri. Masyarakat tanpa agama.

Setiap masalah yang sulit, dapat diselesaikan dengan bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar. Setiap tahunnya ada sekitar 30 ribu kasus bunuh diri di Jepang. 80-100 orang mati bunuh diri setiap hari. Bunuh diri terjadi setiap 15 menit sekali. Orangtua melakukan bunuh diri untuk membalas dendam atas rasa kurang perhatian anaknya terhadap mereka. Saat orangtua bunuh diri, anaknya harus membayar denda yang sedemikian mahalnya. Lewat inilah para orangtua membalas dendam, ada rasa puas yang didapat dengan membuat susah anak-anaknya. Saya sangsi mereka benar-benar bisa merasa puas di kehidupan setelah mati. Selain menabrakkan diri ke kereta, tempat favorit Jepang untuk bunuh diri ada di kaki Gunung Fuji, hutan Aokigahara. Hutan ini sangatlah lebat. Kalau ingin "bersembunyi" dan tak ditemukan lagi, hutan ini pilihan yang tepat. Begitu terkenalnya tempat ini, sampai-sampai ada papan peringatan di pintu masuk hutan. Kira-kira bunyinya begini: "Hidup Anda adalah hadiah tak ternilai dari orangtua.  Pikirkan lagi orangtua, saudara-saudara, dan anak-anak Anda. Jangan simpan masalahmu sendiri. Bicarakan masalah-masalahmu."

Prof RK manggut-manggut sambil membelakakan mata. "Beda sekali dengan Amerika ya, mereka leisure jadi happy", tanggap beliau memulai ceritanya sewaktu 6 tahun di US dulu. Beliau banyak juga menyoroti pendidikan SD sampai SMA di US dan negara-negara maju lainnya, yang lebih myelin-based ketimbang kognitif. Termasuk Jepang sendiri. Dimana anak-anak SD tak diajarkan berhitung matematika hafalan yang dilagukan seperti "satu ditambah satu...sama dengan dua...", tapi langsung belajar aplikasinya dari alam. Anak-anak dilatih untuk kritis. Misalnya, anak-anak di kelas sedang memegang kotak bambu yang terisi pasir, lalu digoyangkan. Akan terdengar bunyi gemericik. Lalu anak-anak diarahkan guru untuk menambahkan pasirnya. Suara gemericik akan semakin kencang dan berisik. Ini akan melatih mereka untuk berpikir kritis dan berorientasi tindakan.

Inovasi pun dilatih sejak dini. Walaupun arahannya sama - tambahkan pasir - tapi kelakuan anak-anaknya unik dan berbeda. Ada yang menambahkan pasir, membunyikan, lalu menambahkan lagi karena merasa bunyinya kurang. Ada juga yang menambahkan kelereng, jadi bunyinya beda dari yang lain. Semua anak dilatih untuk kreatif.

Sayangnya di Indonesia kita tercinta tak begini. Sistem pendidikan kita terlalu bersifat kognitif. Banyak orang yang tak menyadari kalau manusia diciptakan serba berpasangan. Sepasang mata. Sepasang tangan. Sepasang kaki. Sepasang telinga. Manusia pun dibekali dua jenis memory, brain memory (otak) dan muscle memory (myelin). Terlalu kognitif berarti hanya menekankan peran brain memory semata. Dengan terlalu mengedepankan brain memory, tak ayal orang-orang kita lamban dalam bertindak dan kurang berorientasi pada tindakan. Kita pun sulit berinovasi, menangkap kesempatan-kesempatan baru, melakukan koordinasi, ataupun menggerakkan perubahan ke arah lebih baik.

Inilah yang melatarbelakangi Prof RK untuk menjadi social enterprise, dengan mendirikan rumah perubahan. Bersama istrinya yang terus menerus meneliti system pendidikan, beliau mendirikan taman kanak-kanak gratis untuk penduduk di sekitar rumah perubahan, yang memang sengaja didirikian di tengah-tengah kampong penduduk kurang mampu, di pinggir Jakarta Timur. Sistem pendidikan yang menyatu dengan alam, myelin-based pun diterapkan di taman kanak-kanak ini. Ibu-ibu posyandu di sekitaran juga dilatih sebagai guru TK. Supaya tahu lebih detail tentang myelin ini, bisa baca buku Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan karya beliau.

Selain berkutat dengan myelin, rumah perubahan juga melatih orang-orang untuk berentrepreneur. Kalau kalian mau berentrepreneur, jangan kuliner lah, sudah banyak, ada dimana-mana, dan mudah ditiru. Jadilah kalian social enterprise, atau tech-start up juga bagus. Bikinlah sesuatu yang membuat Indonesia berubah!, pesan Prof RK kepada kami. Kan tak mesti semua orang jadi entrepreneur. Di Indonesia sekarang ini pekerjaan sedang melimpah ruah, tapi SDM berkualitas sulit sekali didapat. Perusahaan sekelah Astra pun kesulitan mencari SDM lho. Orang-orang pintar kita lebih banyak memilih luar negeri. Kalian nanti jangan lupa pulang lah!, lanjut Prof RK. Kami manggut-manggut mengiyakan pesan beliau sambil membayangkan kalau sudah pulang nanti akan membuat apa.

Waktu 2.5 jam memang bagaikan Ferrari melintas di sirkuit F1, sangatlah cepat. Sangat tak cukup untuk berdiskusi dengan orang sekaliber beliau. Mengingatkan saya kalau waktu di dunia ini sangat sebentar (1 hari akhirat = 1000 tahun dunia). Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (As Sajdah 5).

Masih banyak sekali perbincangan yang belum saya tulis sebenarnya. Kalau tidak saya sudahi bisa-bisa tulisan ini jadi satu buku sendiri. Perbincangan 2.5 jam itu memang harus berakhir, tentunya dengan foto bersama. Saya sudah tertinggal kereta terakhir pulang ke Fuchu. Tak bisa dipungkiri pertemuan memang selalu ada akhirnya. Walaupun masih banyak sekali yang ingin saya dengan dari beliau, sebanyak buih-buih di selat Bosphorus, laut Marmarah.

Terima kasih banyak Prof RK, telah mempersilahkan kami bertiga, orang-orang tak dikenal, untuk menemui dan berdiskusi. Semoga kami bisa mengikuti jejak Prof menjadi entrepreneur dan merubah Indonesia kea rah lebih baik, saat giliran kami tiba nanti. Sukses terus Prof! Sampai ketemu di ibu pertiwi!

Lobi Prince Hotel Takenawa, 6 Maret 2013